IMarE Indonesia » Environment, Global Warming

DIOKSIDA KARBON pemanasan yang tak pernah berakhir

Gas asam arang atau dioksida karbon (CO2) adalah penyebab nomor satu perubahan cuaca sebagai akibat ulah perbuatan / kegiatan manusia. Namun begitu, tahukah kita apa sesungguh-nya dioksida karbon itu? Darimanakah datangnya gas itu? Dan mengapa sejumlah pemerintahan dan para pelaku kegiatan industri dan perdagangan di negara-negara maju (belum termasuk Indonesia tentunya) sekarang ini sedang berusaha keras untuk mengurangi kandungan emisi-emisi karbon dioksida di negara-negara mereka?

Sumbangan atau kontribusi CO2 terhadap perubahan cuaca sebagai akibat ulah / kegiatan manusia: 70% dari Potensi Pemanasan Bumi (selama 100 tahun terakhir): 1 

Sebuah molekul dioksida karbon (CO2) terdiri dari satu atom karbon dan dua atom oksigen. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, serta sulit untuk di- deteksi. Jumlah dioksida karbon di atmosfir selama berlangsungnya sejarah Bumi berubah-ubah, namun Badan PBB yang menangani Perubahan Iklim (IPCC) memperkirakan bahwa sebelum era industri jumlah kandungan CO2 dalam atmosfir Bumi sekitar 280 ppmv (parts per million volume).

Sementara terdapat gas-gas rumah kaca (greenhouse gases) yang lain seperti metana dan ozon yang mampu menahan/memerangkaplebihbanyak panas dalam setiap molekulnya, dioksidakarbonmerupakangasrumah kaca terpenting nomor satu disamping uap air. Metana dan ozon memang lebih efisien (dalam memerangkap panas), namun memiliki dampak yang lebih kecil terhadap perubahan iklim karena konsentrasi kandungannya dalam atmosfir lebih kecil.

Kenaikan kandungan CO2 akibat ulah / kegiatan manusia

Sejak dimulainya revolusi industri, jumlah kandungan rata-rata CO2 dalam atmosfir telah meningkat 40% dari perkiraan semula 280 menjadi 380 ppmv. Sum-bangan peningkatan kandungan CO2 ke atmosfir ini sebagian besar diakibatkan oleh faktor- faktor antropogenik (yang berasal dari ulah/kegiatan manusia), seperti misalnya pembakaran bahan-bahan bakar fossil, peng-gundulan hutan dan hasil sampingan / limbah industri. Secara keseluruhan, umat manusia mengeluarkan 32 gigaton CO2 setiap tahunnya. Separuh dari jumlah ini tertahan di atmosfir; selebihnya diserap oleh samudera-samudera dan tumbuh- tumbuhan. Dengan meningkatnya secara tajam emisi-emisi CO2 yang berasal dari ulah / kegiatan manusia, siklus alami CO2 menjadi tidak seimbang lagi; tumbuh-tumbuhan tidak bisa lagi mengubah jumlah CO2 yang kian meningkat ini menjadi oksigen, sedangkan samudera-samudera secara mantap telah mencapai tingkat kejenuhannya. Akibat peningkatan kandunganCO2dalamatmosfiradalah meningkatnya dampak rumah kaca dan kemudian diikuti oleh perubahan iklim. Sementara CO2 hanya brtanggung jawab (menyumbang) 20% dari dampak rumah kaca yang alami (natural greenhouse effect), gas ini bertanggung jawab atas 60% dampak rumah kaca antropogenik yang mengakibatkan gelombang pemanasan dunia yang terakhir.

Sumber-sumber CO2

Dioksida karbon telah berada disekitar kita sepanjang masa. Para pakar ilmu pengetahuan mengatakan bahwa lapisan atmosfir Bumi paling awal sebagian besar berisikan uap air, dioksida karbon, dan amoniak yang berasal dari letusan-letusan gunung berapi. Sekarang ini, dioksida karbon sebagian besar diproduksi oleh pembakaran bahan-bahan organik seperti batubara, minyak, dan kayu, fermentasi/pembusukan, dan proses- proses pernapasan dari organisme- organisme hidup.

Sebagian besar dari CO2 di atmosfir dihasilkan oleh mesin-mesin pembangkit energi dan transportasi. Pabrik semen, diantara begitu banyak pabrik-pabrik pemroses bahan-bahan kimia yang lain, juga melepaskan gas CO2. Pembusukan bahan-bahan mengeluarkan CO2, sehingga tempat- tempat buangan sampahpun merupakan penyumbang meningkatnya kandungan CO2 di atmosfir. Umat manusia juga merupakan sumber CO2. Udara yang kita hembuskan saat bernafas mengandung sekitar 4.5% CO2. Bakteri- bakteri yang hidup di tanah pun mengeluarkan CO2 saat mencerna daun-daunan dan bangkai-bangkai binatang (termasuk manusia). Bahkan tumbuh-tumbuhan yang disiang hari menyerap CO2, dimalam haripun mengeluarkan CO2 pula.

Peran dan Manfaat CO2

Meskipun CO2 akhir-akhir ini telah mendapatkan pemberitaan buruk dimedia, namun sesungguhnyalah gas ini merupakan zat / zarah yang paling penting di Bumi. Disamping membuat suhu-suhu di Bumi menjadi lebih panas, juga merupakan pupuk tanaman yang paling penting di dunia.page50image1752

Tumbuh-tumbuhan, fitoplankton dan algae memerlukan gas ini dalam proses fotosintesis untuk memroduksi gula dan untuk bisa tumbuh. Karena itu hutan-hutan (terutama hutan tropis) merupakan salah tempat-tempat pembuangan / penampungan CO2 yang paling penting.

Secara teoritis, peningkatan level-level kandungan CO2 haruslah diimbangi dengan memperbanyak tanaman dan algae. Sampai ke tingkat konsentrasi tertentu, lebih banyak jumlah CO2 berarti akan lebih banyak lagi proses- proses fotosintetis dan tanaman yang tumbuh. Akan tetapi malangnya, dibawah kondisi-kondisi udara yang panas dan kering banyak sekali tumbuh-tumbuhan yang menutup pori- pori untuk mencegah menguapnya air yang dikandungnya dan mengubah sakelar untuk suatu proses yang dinamakan fotorespirasi (photorespiration) dimana selama proses itu berlangsung justru mengonsumsi oksigen dan memroduksi dioksida karbon. Sehingga peningkatan kandungan CO2 di atmosfir hanya akan menyebabkan pertumbuhan di wilayah- wilayah dengan hujan yang cukup dan tanah yang subur.

Disamping proses-proses alami yang mendasar, terdapat sejumlah penggunaan artifisial dari dioksida karbon. Misalnya es kering atau dry-ice yang digunakan untuk mendinginkan peralatan, hanyalah sejenis karbon dioksida yang didinginkan sampai beku. CO2 juga bisa didapatkan dalam peralatan pemadam kebakaran dan, aditif makanan E290, dan ditambahkan sebagai bahan untuk mengeluarkan suara desis dalam minuman-minuman ringan (soft drinks) dan air soda.

(Dialih-bahasakan dari artikel dalam website ”knowledge.allianz.com…”HR)

Leave a Reply